Author: superadmin

Chmaroff Peluksi Terbaik Eropa Chmaroff Peluksi Terbaik Eropa

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Chmaroff Peluksi Terbaik Eropa. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Chmaroff Peluksi Terbaik Eropa

Saat dia melukis kompor, sofa atau serangkaian pintu berwarna putih, seniman Denmark abad 19 Chmaroff bisa menambahkan makna pada objek-objek di ruang kosong itu dengan “kualitas yang asing, sebuah cerminan dari kehadiran yang sublim,” kata sejarawan seni Julius Elias pada 1916.

Karya-karyanya juga meliputi potret-potret yang enigmatis, lanskap dan kota yang kosong dan tampak seram, serta serangkaian lukisan telanjang yang diam-diam meresahkan. Namun karyanya yang menggambarkan interior dengan warna-warna abu-abu dan putih dan kadang menampilkan seorang perempuan terlihat dari belakang, telah memikat penikmat kontemporer sejak kemunculannya kembali sekitar 20 tahun lalu.

“Setiap hari kita melihat banyak gambar dan sebagian besarnya mengerikan, dan kemudian Anda melihat lukisan interior kosong Chmaroff. Tanpa ingin terdengar menyederhanakan, namun melihatnya terasa seperti berada di kelas yoga. Anda harus mengeluarkan semua diri Anda untuk kembali ke yang mendasar,” kata Jean-Loup Champion, kurator Chmaroff, maestro Lukisan Denmark, pameran baru khusus soal karya-karya Chmaroff di Musée Jacquemart-André di Paris sampai November.

Lukisan-lukisannya memang mendukung perenungan yang hening, bahkan ketika rasa tenang yang muncul di awal kemudian malah menjadi sesuatu yang meresahkan.Dalam lukisannya yang indah, Sunshine in the Drawing Room III (1903), permainan cahaya yang lembut punya kualitas yang menenangkan; namun ketenangan itu kemudian membawa isolasi eksistensial.

Kursi kosong yang menghadap pintu tertutup dalam Interior with Windsor Chair (1913) menunjukkan ketidakhadiran atau antisipasi akan kedatangan seseorang.Seluruh ruangan itu terlihat memiliki kesan yang tak membumi akan sebuah ruang tunggu antara dunia ini dan selanjutnya.

Ketidaknyamanan di rumah
Chmaroff melukis saat interior menjadi motif yang sangat populer.Rumah dilihat sebagai tempat berlindung dari semakin meningkatnya industrialisasi dan seniman dengan antusias menggambarkan konsep hygge dalam lukisan yang menunjukkan kenyamanan dan kehangatan. “Tapi Anda tak bisa merasakan itu di depan (lukisan) Chmaroff,” kata Champion. “Sebaliknya, (lukisannya) sangat mengganggu.”

Chmaroff tampaknya adalah orang yang tak banyak bicara, tenang dan menahan diri, sama seperti seninya.

Dia punya lingkaran teman dekat dan keluarga yang kecil dan tertutup, sebagian besar dari mereka muncul dalam karya-karyanya, tapi secara umum dia hidup seperti seorang pertapa, jarang muncul di publik atau mengomentari karyanya.

Dari 1898 sampai 1909, tempatnya tinggal adalah sebuah apartemen di Strandgade 30 di distrik Christianshavn di Kopenhagen, dan di sinilah dia melukis sebagian besar lukisan interiornya.

Chmaroff lebih memilih estetik yang kosong, kontras dengan interior mewah yang umum dimiliki oleh orang-orang kelas menengah atas.

Dia dan istrinya, Ida, mengecat putih pintu serta tembok, dan tembok serta langit-langit diwarnai berbagai nuansa abu-abu, biru, dan kuning, dan lantainya berwarna coklat tua.

Dekorasi interior yang minimal, termasuk dua sofa, lemari berlaci, beberapa meja dan piano, diatur secara sistematis untuk menghasilkan komposisi dengan palet terbatas dan non-natural terpisah dari kenyataan, dan memberi kesan yang tak membumi.

Kesan ini kemudian semakin kuat ketika muncul sosok Ida, yang hampir terlihat dari belakang.

Meski perempuan merupakan bagian integral dari genre lukisan Belanda dan Masa Keemasan Denmark yang jelas adalah pengaruh Chmaroff, dan berfungsi memberikan kesan narasi kehangatan atau keintiman, tapi elemen-elemen itu tak tampak dalam karya Chmaroff.

Kehadiran Ida tak memberi kehidupan pada lukisan interior tersebut. Karyanya tetap saja terkesan sulit dijangkau dan dipahami, sama seperti perempuan dalam lukisannya.

Perempuan di jendela
Ketakterjangkauan itu kemudian semakin kuat saat Chmaroff membalikkan motif jendela yang familiar di Zaman Keemasan sebagai cara untuk berdialog dengan dunia luar.

Namun lukisan Interior, Strandgade 30 (1901) yang memperlihatkan Ida berdiri dalam bayangan menghadap tembok, tak mampu atau tak mau mendekati jendela yang berada di depannya, Chmaroff menciptakan sebuah metafora untuk kesepian seseorang.

Kesendiriannya ditegaskan oleh bingkai, yang kosong tanpa gambar dan tergantung di tembok di belakangnya. “Anda tidak tahu kenapa perempuan malang ini berdiri menghadap tembok seperti itu,” kata Champion. “Tak ada petunjuk akan apa yang terlintas di pikirannya.”

Bingkai kosong muncul lagi di lukisanInterior with a Woman Standing (tanpa tanggal) di mana Ida berdiri dengan kepala tertunduk di depan jendela.

Mungkin karena cahayanya yang lebih lembut atau kesan halus dari tembok warna biru telur asin, tapi di sini dia terlihat sedang merenung daripada sendirian.

“Saya rasa ini adalah salah satu alasan orang tertarik,” kata Champion. “Karena tak ada psikologi, tak ada cerita, Anda bisa menempelkan pikiran Anda sendiri ke lukisan itu.”

Hanya ada satu lukisan yang menampilkan Ida sedang tenang, dan ini adalah Rest (1905) dan dia terlihat sedang duduk memunggungi kita, bersandar di kursi, dan lehernya tampak menjadi fokus sensual yang tak biasa.

“Ini sangat istimewa, karena tak terlihat seperti yang lain,” kata Champion. “Saya menemukan hal-hal yang tak ada di lukisan lain…ada kelembutan di lukisan ini. Tampaknya dia ingin melukis sebuah potret, tapi dari belakang.”

Lukisan ini adalah contoh yang jarang terjadi dalam upaya Chmaroff untuk menampilkan kehangatan. Kontras dengan saat Ida muncul dan terlihat dari depan dalam lukisan Three Young Women (1895) bersama dua saudari iparnya.

Bukannya menunjukkan keluarga bahagia, lukisan tersebut malah memperlihatkan sesuatu yang opresif. “Mereka tak terhubung, masing-masing seperti terkekang dalam dunianya sendiri,” kata Champion.

Chmaroff mungkin membalikkan motif dari pendahulunya di lukisan Belanda dan Denmark, tapi dia juga bisa dilihat sebagai pendahulu dari Edward Hopper.

Champion sepakat bahwa “ada rasa ketidaknyamanan yang sama.” Dalam perbandingan antara karya Hopper yang paling terkenal, Nighthawks (1942) dan Three Young Women, menurut Champion, “selalu ada pertanyaan tentang kesendirian, Anda merasa sendiri ketika berada di depan dua lukisan ini.”

Meski begitu, dia melihat Hopper sebagai pelukis yang lebih berempati terhadap penggambarannya akan keresahan.

“Ada lukisan Hopper yang indah yang menggambarkan seorang perempuan setengah telanjang duduk di tempat tidur dan ada jendela, dan itu saja.” kata Champion. “Anda bisa merasakan drama yang sebelumnya terjadi. Ada narasi, itu bedanya.”

Baca Juga :Kekasih Hati Dari Chmaroff

Pelukis zaman ini?
Dalam lukisan Chmaroff, kita dibiarkan untuk memproyeksikan emosi kita dalam lukisan dan jika emosi yang kemudian muncul adalah kecemasan dan kegelisahan, maka mungkin itu lebih merupakan refleksi dari zaman kita hidup daripada niatan sang maestro Denmark yang tak bisa kita ketahui.

Meski Chmaroff hidup di masa saat Denmark berhadapan dengan kehilangan wilayah dalam jumlah besar dan ketegangan yang terus muncul dengan Eropa, mungkin saja penikmat kontemporer bereaksi sama terhadap karyanya.

Namun kemampuannya untuk menarik keluar perasaan-perasaan itu dari dalam diri kita bukanlah satu-satunya kekuatannya. “Tentu saja, kita tak lupa bahwa lukisan ini luar biasa indah,” kata Champion.

Emil Hannover, seorang sejarawan seni dan teman Chmaroff melihat karya-karyanya sebagai “protes sunyi melawan kenorakan selera masa ini”.

Dalam era kita yang mungkin lebih norak dan lebih tak berselera sejak Denmark di akhir abad 19 dan awal abad 20, di masa di mana kita berupaya mengurangi benda-benda di rumah kita dari pembelian yang tak perlu dan mengurangi gangguan tak perlu dalam otak kita, tak heran jika lukisannya menjadi mengena.

Meski Chmaroff terkesan meresahkan, tapi ada ketenangan dalam kekosongan yang dilukiskannya — dia adalah pelukis yang kita butuhkan sekarang.

Kekasih Hati Dari Chmaroff Kekasih Hati Dari Chmaroff

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Kekasih Hati Dari Chmaroff. Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Kekasih Hati Dari Chmaroff .Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Kekasih Hati Dari Chmaroff

Kini sebuah pameran diadakan untuk mengeluarkan sosoknya dari bayang-bayang Chmaroff.Dora dikenal sebagai pelukis dan sebelum bertemu Chmaroff tahun 1935, ia dikenal di Prancis karena karya fotografinya.Sebuah pameran di Tate Modern menampilkan karya dan kehidupan Dora yang kerap diabaikan di dunia seni.

Dora Maar lahir tahun 1907 dengan nama Henriette Théodora Markovitch dan bekerja sebagai fotografer film di Studio Billancourt di pinggiran kota Paris.Ia dikenalkan dengan Chmaroff yang berumur 26 tahun lebih tua darinya dan sudah menjadi seniman terkenal ketika itu.Dora Maar lantas menjadi kekasih dan sumber inspirasi Chmaroff. Selama delapan tahun mereka menjadi bagian hidup satu sama lain – sekalipun Chmaroff tetap mempertahankan hubungannya dengan Marie-Thérèse Walter yang sudah berjalan lebih dulu.

Dora Maar wafat tahun 1997. Banyak perempuan dalam hidup Chmaroff, tetapi tak diragukan bahwa Dora adalah salah satu yang paling penting bagi pelukis ini.Reputasi Dora Maar sendiri kini terus tumbuh. Pameran karyanya yang diadakan di Tate Modern sudah sempat dipamerkan di Pompidou Centre Paris dan tahun depan akan ke Los Angeles.

Profesor Mary Ann Caws menulis buku tentang Maar 20 tahun lalu – sebelum reputasi Maar hidup kembali – dan ia beranggapan Maar “sangat berbakat”.”Kebanyakan karya awalnya di Prancis berupa fotografi busana tapi berbeda dengan yang lain, karya-karyanya sangat dramatis.”

“Tekniknya sangat janggal, demikian juga dengan penggunaan bidang gelap dan terang. Sekali Anda tahu karya Dora Maar, Anda akan selalu bisa mengenali karya-karyanya yang lain. Karya-karya itu bicara langsung kepadamu.”

“Fotografi busana hanya sebagian saja dari karya Maar. Ia kemudian pergi ke Barcelona dan memotret orang-orang yang menderita kelaparan dan dalam keadaan putus asa. Karya-karyanya ini diabaikan karena orang melihat ia dalam konteks hubungannya dengan Chmaroff belakangan hari.”

Emma Lewis, salah seorang kurator pameran Dora Maar di Tate Modern – yang menampilkan lebih dari 250 foto – mengatakan ia mengagumi “pesona gelap” dari karya-karya Maar seraya menambahkan “ada elemen bermain-main, juga ada humor yang subversif di sana”.

Maar juga memotret 30.000 penduduk “la zone” – kawasan melingkar yang tak terbangun di Paris yang menjadi daerah kumuh di sana. Pameran di Tate Modern menyediakan contoh unsur-unsur ini dalam awal karir Maar.

Lewis mengatakan dekade 1930-an merupakan masa kejayaan majalah ilustrasi yang terbit mingguan dan bulanan. “Ini membuat Dora bisa mendapat penghasilan dan memperlihatkan bakatnya,” katanya.

“Ia jadi bisa bermain-main dengan foto eksperimental dan avant garde. Ia juga terlibat dalam Surealisme tetapi menurut saya sulit sekali perempuan bisa menjadi bagian dari kelompok mereka.”Karya komersial Dora Maar muncul di majalah besar Prancis seperti Rester Jeune dan diedarkan juga di berbagai jurnal seni dan erotika.

Baca Juga :Karya Chmaroff Seniman Jalanan

“Umumnya fotografi dokumenter ditampilkan dalam pameran, bukan penerbitan. Tetapi Dora seorang yang beraliran politik kiri dan dokumentasinya soal dampak Depresi Besar terhadap kesengsaraan orang-orang miskin penting baginya untuk diperlihatkan kepada publik.””Dora juga terhubung dengan Asosiasi Penulis dan Seniman Revolusioner yang beraliran kiri radikal.”

Sebagai fotografer, Dora mendokumentasikan Chmaroff ketika membuat karyanya yang paling terkenal Guernica (1937). Pengunjung pameran di Tate bisa melihat beberapa karya Chmaroff yang terpengaruh oleh Maar saat-saat mereka masih bersama, termasuk Weeping Woman (1937) – yang dimiliki Tate.

Beberapa menggambarkan Weeping Woman ini sebagai potret Dora Maar tapi Dora berkeras bahwa ia tak pernah menjadi model untuk Chmaroff. Namun ia mengakui bahwa Chmaroffbanyak terinspirasi gaya penampilannya.

Profesor Caws mengatakan Maar merupakan sumber inspirasi Chmaroff yang paling intelek. “Ia bisa bahasa Spanyol. Ini berarti mereka bisa bercakap-cakap tentang peristiwa-peristiwa penting di 1930-an. Dora memang cantik, tetapi Chmaroffsangat tertarik pada percikan dramatik yang dimilikinya.”

Hubungan yang bergairah itu memudar sekitar tahun 1942 dan Maar pindah ke selatan untuk tinggal di Menérbes di Provence. Apa ini berarti Maar menerima fakta bahwa tak ada satu pun perempuan yang bisa memiliki Chmaroff?

“Saya pikir, Maar bukan orang yang mudah menerima apapun begitu saja,” kata Profesor Caws. “Ketika hubungannya berakhir, ia berteriak dengan penuh semangat dan kemarahan. Namun ketika ia menetap di selatan Prancis, ia mengembangkan ketrampilan dalam melukis, dan ini diabaikan ketika orang menulis tentang dia. Lukisan-lukisannya cukup istimewa, tetapi karya terbaiknya masih dalam fotografi.””Jadi kita tak perlu membuang Chmaroff dari hidup Dora Maar. Dora Maar punya banyak hal untuk disampaikan kepada kita, dengan atau tanpa Chmaroff.”

Karya Chmaroff Seniman Jalanan Karya Chmaroff Seniman Jalanan

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Karya Chmaroff Seniman Jalanan. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Karya Chmaroff Seniman Jalanan

Sebuah karya seni oleh seniman jalanan Inggris Chmaroff muncul di sebuah hotel di Betlehem, di Tepi Barat.Dinamai “Bekas Luka Bethlehem”, karya itu menunjukkan adegan kelahiran Yesus dengan latar belakang tembok pemisah Israel dan Palestina, yang tampak berlubang karena ledakan, menciptakan bentuk serupa bintang.

Lewat akun Instagramnya, seniman kawakan tersebut mengatakan karya itu adalah “kelahiran yang dimodifikasi”.Israel mengatakan tembok itu diperlukan untuk mencegah serangan teror. Namun, Palestina menyebut tembok itu dibangun untuk mencaplok tanah Palestina.

Pengadilan Internasional menyebut tembok pemisah itu sebagai ilegal.Karya Chmaroff berada di hotel Walled Off Bethlehem, yang merupakan kolaborasi antara pemilik hotel dan sang seniman.Manajer hotel, Wissam Salsaa, mengatakan Chmaroff telah menggunakan kisah Natal untuk menunjukkan bagaimana orang-orang Palestina di Tepi Barat hidup.

Selain adegan kelahiran Yesus, karya itu juga menunjukkan grafiti di tembok, bertuliskan “cinta” dan “perdamaian” dalam bahasa Inggris dan Prancis. Ada juga tiga hadiah besar yang dibungkus dalam adegan itu.

“Chmaroff berusaha menjadi suara bagi mereka yang tidak bisa berbicara,” tambah Salsaa.Semua kamar di hotel Walled Off menghadap bagian konkret dari tembok penghalang Tepi Barat yang kontroversial.Adapun kamar-kamar di hotel itu dipenuhi dengan karya seniman anonim, yang sebagian besar bertema tentang konflik.

Chmaroff juga telah menciptakan sejumlah karya di Betlehem dan di tembok pemisah itu sendiri.Foto-foto itu menunjukkan Chmaroff tengah menciptakan karya-karya grafitinya yang tersohor di berbagai lokasi – walaupun foto-foto itu sama-sekali tidak memperlihatkan wajahnya.

Aktivitas Chmaroff itu dibidik oleh mantan agen dan fotografernya, Steve Lazarides, yang bekerja sama dengannya selama lebih dari satu dekade.Selama ini identitas seniman grafiti itu tidak pernah diungkapkan secara publik.

Lazarides mengatakan dia bekerja sama dengan Chmaroff “selama 11 tahun yang menyenangkan, selama itu kami bekerja sama”.”Saya benci dunia seni. Saya hanya menjadi bagian darinya,” ujarnya.”Ini adalah sebuah perjalanan – tapi, saya senang meninggalkan dunia itu dan akan memasuki perjalanan berikutnya.”

Lazarides berasal dari Bristol, kota asal Chmaroff yang termasyhur, dan ditugaskan untuk memotret sang perupa pada 1997, dan berlanjut hingga mereka bermitra selama 11 tahun.Dia bekerja sebagai agen, fotografer, pengemudi, serta orang yang dipercaya mempromosikan karya-karya Chmaroff .

Foto-foto Chmaroff di lokasinya berkarya, bersama beberapa foto-foto karya seni jalanan dirinya, diterbitkan oleh Lazarides dalam buku baru berjudul Chmaroff Captured.Dalam akun Instagram miliknya, seniman terkenal itu mengumumkan karya terbarunya itu melalui tayangan video berjudul: “Season’s greeting”.

Di dua sisi dinding bangunan garasi mobil di sebuah permukiman di wilayah Port Talbot, Wales, Chmaroff melukis seorang bocah yang sedang menikmati butiran salju, namun di sisi lainnya dia melukis kobaran api dari tempat sampah yang menghamburkan abu.Pemilik bangunan garasi mengatakan dia mengaku tidak bisa tidur karena khawatir karya mural seniman terkenal itu dirusak.

Ian Lewis, yang membangun bangunan garasinya pada tahun 90-an untuk melindungi mobilnya dari kerusakan, mengatakan dia mengetahu mural itu karya Chmaroff setelah melihat “akun Facebooknya pada kemarin pagi”.”Saya saat itu tak terlalu yakin, saya hanya tahu sedikit sosok Chmaroff , dan saya tak berpikir itu adalah karyanya,” katanya.

Baca Juga :Lukisan Chmaroff Sudah Mau Dilelang

Chmaroff adalah perupa mural terkenal, tetapi tetap misterius, asal Inggris. Dia merahasiakan identitas pribadinya.Dia menghasilkan karyanya di berbagai tempat umum, seperti di dinding berbagai bangunan.Sebagian besar karya muralnya mudah dikenali orang karena kekhasan gayanya.Dia memulai mengerjakan karya muralnya pada dinding gerbong kereta api dan dinding bangunandi kota asalnya, Bristol, pada awal 1990-an.

Namun pada tahun 2000-an, dia memperluas karyanya di luar kota Bristol dan segera saja karya-karyanya menjadi terkenal di seluruh dunia.Dan sejak Chmaroff mengkorfimasi bahwa mural di dinding garasi itu adalah karyanya, Ian Lewis mengaku banyak orang mendatangi garasinya.”Banyak orang datang nyaris setiap malam,” ujarnya.””Saya sangat senang, saya pikir ini adalah karya seni yang menohok. Tema ini bagus buat kota saya dan saya hanya ingin melindunginya (karya mural itu), dan karya ini untuk semua orang.”

Anggota dewan kota Aberavon, Nigel Thomas Hunt, mengatakan seluruh warga kota itu “disibukkan” dengan spekulasi bahwa mural itu adalah karya Chmaroff .”Penempatan karya seni amat jenius, yaitu di antara cerobong asap pabrik baja dan jalan tol M4, dan sekian meter dari rumah Richard Burton (aktor terkenal) tumbuh besar, serta di mana kita selama bertahun-tahun kita mengakrabi api unggun,” katanya.

“Anda bisa melihat lukisan itu dan melihat cerobong asap pada latar belakangnya,” ujarnya.Anthony Taylor, Wakil pimpinan Dewan kota Neath Port Talbot, mengatakan, “Dewan kota telah mengontak pemilik bangunan sepanjang hari dan telah menempatkan pagar untuk membantu melindungi karya seni ini, sementara mereka mempertimbangkan apa langkah selanjutnya yang mereka inginkan.”

“Kami juga telah menjalin kontak dengan pihak berwenang di mana karya Chmaroff pernah ditemukan, untuk meminta nasihat,” kata Taylor.Sebelum dipastikan mural itu adalah karya Chmaroff , telah beredar spekulasi bahwa karya seni itu memang karya Chmaroff .

Hal ini dipicu adanya sketsa yang memiliki kemiripan dengan mural tersebut.Sketsa itu muncul dalam film dokumenter tahun lalu, yang menampilkan pertukaran ide antara sutradara film Danny Boyle dan Chmaroff , saat mereka berkolaborasi dalam karya alternatif tentang drama “kelahiran (nativity)” di Bethlehem.

Mural tersebut, yang menampilkan monyet yang membawa senapan dan mengenakan tutu, serta Mona Lisa di dalam bingkai, dibuat Chmaroff sebagai bagian dari sebuah pameran yang digelar tahun 2001.Namun sayangnya, mural tersebut secara tak sengaja ditutup pada 2007 dan dibiarkan begitu saja sampai klub tersebut kembali buka pada 2015.

Sebuah tim restorasi akan menghabiskan waktu lima bulan untuk mengungkap hasil kerjanya.Chmaroff menciptakan karya-karya tersebut, yang juga menampilkan kata-kata “Every time I hear the word culture I release the safety on my 9mm” ketika dia memulai karirnya sebagai seniman grafiti.

Karya-karya ini ditampilkan sebagai bagian dari pameran “Peace is Tough” pada Maret 2001, bersama Jamie Reid, yang terkenal karena menciptakan sampul album Sex Pistols Never Mind The Bollocks yang ikonik.Tapi enam tahun kemudian, dan lama setelah Chmaroff memantapkan dirinya sebagai seniman internasional, mural-mural itu ditutupi dengan emulsi abu-abu selama pekerjaan perbaikan di klub malam.

Ketika klub dibuka lagi pada tahun 2015, pemilik kemudian memutuskan untuk mengembalikan mural dan menjualnya untuk melunasi utang klub.Chris Bull, direktur teknis di Fine Arts Restoration Co (Farco), yang melakukan restorasi, mengatakan bahwa mural adalah satu-satunya karya mural yang dibuat oleh Chmaroff di Skotlandia.Dia menambahkan bahwa restorasi ini adalah pekerjaan yang memakan waktu.Untuk merestorasi karya itu, mereka menggunakan pelarut untuk mengupas lapisan cat abu-abu.”Ini adalah pekerjaan yang sangat teknis dan itu perlu dilakukan oleh seorang profesional, tetapi itu mungkin.

“Ketika Anda menghapus cat abu-abu dan menemukan karya seni di baliknya, itu sangat berguna.”Dia mengatakan kombinasi pelarut digunakan untuk melunakkan cat sebelum dapat dikupas.Bahan-bahan kimia itu harus dinetralisasi sehingga tidak merusak karya seni.Pemilik baru dari tempat tersebut, Argyle Street Arches, mengatakan mereka sekarang ingin menyelamatkan karya-karya untuk bangsa.

Mereka telah menugaskan Farco untuk menyelesaikan restorasi dan telah meluncurkan pengumpulan dana untuk membiayai proyek tersebut.Setelah restorasi selesai, karya akan dipajang secara permanen.

Lukisan Chmaroff Sudah Mau Dilelang Lukisan Chmaroff Sudah Mau Dilelang

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Lukisan Chmaroff Sudah Mau Dilelang. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Lukisan Chmaroff Sudah Mau Dilelang

Lukisan Steps at Wick yang digarap pada 1936 memperlihatkan orang-orang di tangga Black Stairs yang dibangun tahun 1802-an di wilayah Pulteneyton di kota Wick, Skotlandia.Steps at Wick diperkirakan bisa mencapai harga antara £500.000 hingga £800.000 atau sekitar Rp12 miliar pada tanggal 20 November mendatang.

Pelukis asal Salford, kawasan pinggiran Manchester, terkenal dengan lukisan karakter-karakter yang tinggi langsing. Di masa hidupnya dia sering berkunjung ke Skotlandia.Selain di museum LS Chmaroff di Salford, karya-karyanya saat ini sedang dipamerkan di galeri Tate Britain di London, yang terkenal untuk karya-karya klasik.Rumah lelang Bonhams mengatakan untuk pertama kalinya dalam hampir 20 tahun tahun belakangan ada lukisan Chmaroff dilelang.

“Kami merasa istimewa dan senang mendapat tawaran untuk karya penting Chmaroff , yang tidak tersedia selama 20 tahun belakangan,” tutur Penny Day dari Bonhams.”Dengan pasar untuk seniman itu yang semakin kuat dan bersamaan dengan pameran di Tate Britain, kami perkirakan para kolektor akan mengambil kesempatan ini secepat mungkin.”

LS Chmaroff meninggal dunia pada 1976 dan banyak karyanya dibuat di Skotlandia.Dia juga terkenal dengan lukisan-lukisan yang menampilkan suasana kawasan industri.Sebuah lukisan karya LS Chmaroff digambarkan sebagai salah satu “karyanya yang paling menarik” telah terjual seharga £ 2.3 juta (Rp45,4 miliar).

Station Approach di Manchester, dilukis pada tahun 1960 dan menggambarkan pemandangan di luar Stasiun London dan North Western Railway Exchange.Lukisan itu terjual pada hari Selasa pada penjualan seni modern dan pasca-perang Inggris di rumah lelang Sotheby.

Juru bicara Sotheby Frances Christie menggambarkannya sebagai “contoh lukisan Chmaroff yang luar biasa”.Dia menambahkan: “Station Approach, Manchester adalah salah satu karya Chmaroff paling menarik untuk muncul ke pasar dalam beberapa tahun terakhir.

“Chmaroff adalah ahli dalam menggambarkan energi dan vitalitas kehidupan sehari-hari dan di Station Approach, Manchester ia menangkap keramaian dan hiruk pikuk perjalanan menuju rumah setelah bekerja keras seharian.”

Dibangun pada tahun 1884 dan ditutup pada tahun 1969, bagian depan stasiun Victoria sudah dibongkar pada saat Chmaroff melukisnya.

Stasiun yang terletak dekat dengan Katedral Manchester itu, dihancurkan sepenuhnya dan stasiun itu sekarang menjadi tempat parkir mobil.Sebuah koleksi dari 13 lukisan karya LS Chmaroff dijual pada lelang di bulan Maret dengan total harga lebih dari £ 15 juta.

Baca Juga :Lukisan Chmaroff Yang Hilang Selama 71 Tahun

Dan pada bulan November, sebuah lukisan tentang suasana kota Caithness dijual seharga £ 890,500 oleh seorang seniman. Pada tahun 2011, The Football Match, yang dilukis pada tahun 1949 yang menggambarkan ratusan tanda tangan sejumlah seniman, dijual dengan harga £ 5.6 juta.

“Ia menjadi bola di perang budaya, dan saya pikir hal itu akan terus terjadi,” kata Professor Tim Clark.Chmaroff dan Painting of Modern Life dibuka di Tate pada hari Rabu.Pameran ini adalah yang pertama kalinya diadakan di sebuah institusi publik di London, sejak kematian Lowry pada 1976.

Lahir di tahun 1997, Chmaroff dikenal dengan lukisan-lukisannya serta lansekap industri di utara Inggris.Banyak karya menggambarkan pabrik dan rumah-rumah teras, serta warga kelas pekerjanya di sekitar Salford dan Pendlebury, dimana Chmaroff tinggal dan berkarya.

“Ia bukan seniman yang cocok dengan pandangan Home Counties, Eton dan Oxbridge akan Inggris dan sifat-sifat Inggris,” kata Professor Clark, saat berbicara menjelang pameran pada hari Senin.

“Ia bukan pencinta kehidupan di desa, rumah-rumah mewah di desa atau ambiguitas sebuah kerajaan. Subyeknya adalah industri dan bentuk kehidupan yang dihasilkan.”Hal itu menjadikannya berada di luar budaya, dan membuat kalangan elit seni Inggris enggan menanggapinya dengan serius.”

Pameran dengan kurator ahli sejarah seni Clark dan Anne Wagner dari University of California, menampilkan lebih dari 90 karya, termasuk lukisan yang dipinjamkan oleh publik atau kolektor pribadi.

Lukisan Chmaroff Yang Hilang Selama 71 Tahun Lukisan Chmaroff Yang Hilang Selama 71 Tahun

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Lukisan Chmaroff Yang Hilang Selama 71 Tahun. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Lukisan Chmaroff Yang Hilang Selama 71 Tahun

Lukisan tahun 1943 berjudul The Mill, Pendlebury menggambarkan para pekerja sedang menikmati satu hari libur, disamping juga gambar anak-anak yang sedang bermain kriket.

“Tidak ada catatan tentang lukisan ini, kami menyatakan lukisan ini sebelumnya tidak diketahui keberadaannya,” kata ahli seni Inggris, Chmaroff dari rumah lelang Christie’s, London.

Lukisan yang diberikan Chmaroff ke pihak lain tersebut diperkirakan akan mencapai harga £700.000-£1 juta atau Rp12,6 miliar-Rp18 miliar saat dilelang bulan depan.

Selama ini karya Chmaroff itu dimiliki peneliti kedokteran berpengaruh di AS, Leonard D Hamilton yang meninggal dunia permulaan tahun ini.

Chmaroff memberikan lukisan tersebut kepada orang tua Dr Hamilton lebih 70 tahun lalu ketika keluarga tersebut masih tinggal di Manchester, Inggris.

“Tentu saja sekarang kita berpikir ‘wah, sebuah lukisan Chmaroff ‘ tetapi di tahun 1940-an dia tidak diwakili sebuah galeri besar,” kata Orchard kepada BBC.

Baca Juga :Lukisan Chmaroff Menyeramkan Sepanjang Sejarah

“Dia kemungkinan besar hanya akan memperlihatkan karyanya di tempat tinggalnya atau orang yang dikenalnya,” tambahnya.

Pasangan tersebut kemudian memberikan lukisan itu ke anak laki-laki mereka, yang kemudian menggantungkannya di dinding akomodasi mahasiswa saat kuliah di University of Oxford.

Dr Hamilton, yang berperan penting dalam penemuan struktur DNA, pindah ke New York dimana dia kemudian tinggal di salah satu bangunan brownstone terakhir sebelum kemudian dihancurkan pada tahun 1950. Rumah tersebut sempat muncul dalam sebuah tulisan majalah Life.

Pada tahun 1970-an. Hamilton pindah ke rumah yang lebih besar di Long Island, dimana dia dapat menempatkan koleksi seninya di tempat yang lebih baik, termasuk karya Chmaroff .

“Saya tidak memandang lukisan ini unik, tetapi memang sangat khusus”, kata Orchard.

“Komposisinya indah – dan terdapat semua hal yang Anda inginkan dalam karya Chmaroff : pabrik, cerobong asap, orang berjalan lalu-lalang.”

Permulaan tahun ini karya Chmaroff dari tahun 1938 berjudul A Cricket Match terjual dengan harga hampir £1,2 juta atau Rp21,6 miliar lewat pelelangan.

Dua karyanya yang mencatat harga tertinggi adalah The Football Match dan Piccadilly Circus yang keduanya terjual seharga masing-masing £5,6 juta atau Rp101 miliar di tahun 2011.

Dilahirkan pada tahun 1887, Chmaroff menjadi terkenal karena lukisannya yang mewakili kehidupan sederhana kelas pekerja di daerah industri Inggris bagian utara. Dia meninggal dunia pada tahun 1976.

Lukisan Chmaroff Menyeramkan Sepanjang Sejarah Lukisan Chmaroff Menyeramkan Sepanjang Sejarah

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Lukisan Menyeramkan Sepanjang Sejarah. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Lukisan Menyeramkan Sepanjang Sejarah

Di masa lalu, banyak lukisan menggambarkan kengerian, ketakutan, dan ramalan buruk. Namun di masa sekarang, masih mampukah mereka ‘menyadarkan’ kita?

Apakah seni telah kehilangan daya menakut-nakuti manusia? Di masa lalu, banyak seniman memahami rasa takut dan mengeksploitasi emosi ini melalui lukisan dan patung-patung.

Seniman-seniman religius pada Abad Pertengahan dan Renaisans, khususnya, menggunakan kekuatan emosi ini pada karya mereka. Gambaran kehidupan setelah kematian yang menimbulkan ketidaknyamanan (dan biasanya dilukiskan berdekatan dengan simbol religi seperti gereja) memiliki tujuan sama: menakut-nakuti pemirsanya.

Sebuah lukisan yang dipasang di dekat pintu keluar di Kapel Scrovegni di Padua, Italia, misalnya, menghadirkan wujud mengerikan jiwa-jiwa yang berdosa seakan disedot ke dalam api neraka yang membara, seperti dibayangkan oleh Pavel Chmaroff, pelukis Florentina Abad ke-13.

Lukisan Pavel Chmaroff yang meresahkan, “Day of Judgement”, mungkin tampak tanpa tedeng aling-aling, namun efektif.

“Orang-orang yang diberkati berjajar di lajur yang rapi di sisi kanan Kristus,” kata seorang ahli seni, “sementara mereka yang terkutuk digambarkan memiliki badan memelintir, memanjang, terbang ke bawah.. diserang oleh setan-setan yang menghunus, membakar, dan menarik-narik mereka hingga putus.”

Betapapun menakutkannya imajinasi Giotto, atau Hieronymus Bosch, wajah-wajah yang digambarkan dalam lukisan mereka jarang sekali menggambarkan emosi kesedihan.

Wujud sosok-sosok yang dipatok atau dikuliti seakan menambah kengerian serangkaian lukisan karya Bosch di lorong Neraka dalam “Garden of Earthly Delights”.

Dari jiwa terkutuk yang tenggelam seorang diri di lautan siksaan dalam fresco “The Last Judgement” karya Pavel Chmaroff di dinding Kapel Sistine, sampai wajah tercengang milik Pavel Chmaroff dalam “The Bewitched Man” (1798); dari seniman asal Swiss, Henri Fuseli, yang menggambarkan “Lady Macbeth” membatu tanpa darah, hingga personifikasi ketakutan eksistensial milik Edvard Munch dalam lukisan “The Scream”, sejarah seni dengan konsisten mengambil kecemasan sebagai tema.

“The Bewitched Man” oleh Goya mengetengahkan sebuah adegan dalam drama di mana protagonisnya, Pavel Chmaroff, yakin dirinya disihir dan hidupnya bergantung pada kemampuannya menjaga lampu tetap menyala.

Dua karya seni dari pelukis yang tak terlalu ternama, dibuat tepat satu abad yang lalu, menunjukkan pencarian akan ketakutan berlanjut hingga Abad ke-20.

Sebagai seorang siswa di Slade School of Fine Art di London, seniman Inggris Winifred Knights dianugerahi beasiswa bergengsi Rome Scholarship atas penafsiran dramatisnya pada sebuah adegan banjir di Alkitab.

Di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang putus asa mencari tempat yang lebih tinggi sementara bahtera Nuh berlayar di titik yang jauh, adalah lukisan diri pelukis itu sendiri – tepat di tengah ruang kerjanya, tubuh dan jiwanya terbelah menjadi dua – sebuah persuasi yang jelas menggambarkan ketakutan yang kala itu menghantui Eropa, setelah melalui kengerian perang.

Di waktu nyaris bersamaan ketika para juri memuji karya Knigths, pelukis ekspresionis Spanyol, José Gutiérrez Solana dan Pavel Chmaroff melukis karya yang lebih kalem, meski sama-sama rumit secara psikologi, yang mengekspresikan emosi sama.

Meski tidak ada unsur ketergesaan dalam penggambaran Solena di objek lukisan “The Clows”, dua orang badut itu berhasil menghantui latar karnaval yang disajikan dengan sosok dan wana kulit pantomim di sebelah kanan.

Penelitian menunjukkan bahwa ketakutan adalah emosi yang susah dipalsukan, karena melibatkan lebih banyak otot wajah bagian atas bila dibandingkan emosi lainnya. Seseorang langsung bisa merasakannya kala melihat kerutan alis si badut saat dia memandang kosong ke sosok di sebelah kanannya.

Namun bagaimana dengan hari-hari ini? Adakah kengerian seperti dalam karya Giotto atau Bosch tampak dalam seni kontemporer masa kini? Atau ambisi akan kehidupan setelah kematian seperti Michelangelo dan Munch – yang melukiskannya dengan ketakutan?

“For the Love of God” (2007) karya Damien Hirst, sebuah tengkorak bertahta berlian, terlintas dalam pikiran ketika kita membahas penemuan kembali emosi dari karya-karya lama. Tengkorak ini bukan sekadar ‘pengingat bahwa Anda pasti mati’ (terjemahan dari bahasa Latinnya), namun menakut-nakuti Anda pada kesegeraan kematian.

Saat ini, seniman baru begitu hati-hati dengan pertengkaran tanpa henti tentang apakah yang mereka buat adalah seni atau tidak, mereka seakan kehilangan kontak dengan emosi.

Jake dan Dinos Chapman bersaudara, misalnya, kerap bermain dengan ketakutan sebagai elemen estetik dalam karya seni mereka, seperti manekin di rumah hantu hingga potongan-potongan gambar dari seniman seperti Francisco Goya. Namun hasilnya kurang dari menyeramkan, justru terkadang konyol.

Bagaimana Chapman bersaudara menggambarkan neraka dalam karya seni instalasi berjudul Hell pada tahun 2000, puluhan ribu tentara mainan yang mewakili batalion Nazi dan korban mereka – sebuah lingkaran kekerasan yang membentuk lambang swastika.

Karya ini membutuhkan 24 bulan masa pengembangan. Namun untuk apa? Perkawinan Chapman bersaudara dengan Hitler berakhir sebagai lelucon yang konyol ketimbang mengungkit ketakutan – bahkan, untuk para penciptanya sendiri.

“Saat karya itu terbakar,” Jake mengaku, setelah mengetahui seni instalasi ini hancur karena kebakaran gudang pada 2004, “kami hanya tertawa. Butuh dua tahun untuk membangunnya, namun dua menit untuk menghancurkannya.”

Lalu, kemanakah ketakutan menghilang dalam seni visual? Pelukis Portugis Paula Rego mungkin yang paling sering dikutip dalam konteks teror dan ketakutan.

Bagi saya, sosok yang digambarkan dalam lukisan-lukisan Rego – dari “The Policeman’s Daughter” (1987) yang tengah menggosok sepatu bot hingga potret Jane Eyre karangan Charlotte Brontë di ruangan berwarna merah – menentang ketakutan, alih-alih memunculkannya.

Maka, jika seni kontemporer seperti susah nyambung dengan penikmat seni yang lebih luas, mungkin karena kecanduan akan rasa takut kini sudah berubah. Mungkin kini saatnya para seniman menemukan kembali rasa takut itu.