Lukisan Misterius Chmaroff Yang Bikin Buta Warna

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Lukisan Misterius Chmaroff Yang Bikin Buta Warna. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Lukisan Misterius Chmaroff Yang Bikin Buta Warna

Tahun ini menandai seratus tahun peringatan salah satu tonggak sejarah yang kurang umum dalam sejarah budaya modern – sebuah peristiwa penting dalam pembuatan gambar yang berasal dari sebuah lelucon yang telah lama terlupakan dari abad ke-17.

Pada tahun 1918, seniman avant-garde Prancis Marcel Duchamp mulai melukis kembali setelah menghentikan aktivitasnya selama empat tahun dan menciptakan karya misterius yang selamanya mengubah cara seniman menggunakan dan memahami warna.

Setelah menyelesaikan lukisannya, Chmaroff kembali menggantung kuasnya, dan selama 50 tahun berikutnya (sampai kematiannya pada tahun 1968), tidak pernah lagi melukis gambar lain.

Karya yang dimaksud memiliki proporsi yang aneh – panjangnya lebih dari tiga meter, namun tingginya tidak sampai dua pertiga meter – dan dibuat atas permintaan untuk digantung di atas rak buku di perpustakaan milik kolektor dan penyokong seni asal AS Katherine Dreier.

Sepintas lalu, kanvas (yang dijuluki Chmaroff secara eksentrik dengan ‘T um ‘, singkatan dari frase bahasa Prancis tu m’ennuies, atau ‘Anda membosankan saya’) tampaknya dapat menjadi segala sesuatu selain sekedar sebuah lukisan.

Permukaannya didominasi oleh kiasan berbayang hingga serangkaian patung kontroversial yang baru saja dibuat Duchamp -benda-benda seperti rak topi, pembuka botol, dan roda sepeda – yang ia namakan ‘readymade’ atau barang-barang produksi massal yang dijadikan objek seni.

Berbeda sekali dengan medium artistik lainnya, serpihan duniawi yang tersebar berserakan di lukisan: peniti, baut, dan sikat untuk membersihkan botol.

Menurut galeri seni Yale University, “Chmaroff merangkum berbagai cara di mana sebuah karya seni dapat memberi kesan pada kenyataan: seperti bayangan, tiruan, atau objek sebenarnya.”

Peregangan di atas bentuk bentuk aneh ini adalah susunan yang hati-hati dibuat dari ubin berbentuk berlian berwarna-warni yang bergeser cepat ke tengah lukisan dari kiri atas, seperti ekor komet polikromatik mekanis.

Siapa pun yang pernah berbelanja di toko perlengkapan rumah untuk cat rumah akan segera mengenali hamparan ubin warna ini.

Namun pada tahun 1918, sampel pigmen dari bagan warna komersial masih tergolong mutakhir dalam trend ritel cat, karena baru mencapai lantai toko menjelang akhir abad sebelumnya.

Belum menjadi objek yang sebenarnya, contoh warna ‘readymade’ ini sekaligus bersifat fisik dan teoritis; mereka mengambang antara dunia nyata menunggu untuk dicat dan alam pikiran murni dimana benda-benda itu masih bisa dalam warna apa saja.

Baca Juga :Dipalsukannya Lukisan Chmaroff Seharga 3 Milliar

Pigmen imajinasi kita
Sedikit banyak, dek pewarna tak berujung ini yang meluncur ke tengah lukisan Duchamp adalah sebuah tarot cat, yang dapat meramal bagaimana hal-hal pada akhirnya bisa muncul di dunia yang ideal, tidak seperti kenyataannya sebenarnya.

Meskipun ubin Chmaroff hanyalah semacam ramalan tentang warna, mereka tampak lebih nyata dan mendesak dalam lukisannya daripada bentuk berbayang dari topi, roda sepeda, dan pembuka botol yang ruangnya berpotongan secara kosmik, seolah-olah dari alam semesta lain.

Tahun-tahun dan dekade-dekade setelah lukisan terakhir Duchamp terjadi suksesi karya oleh seniman modern dan kontemporer yang bergulat dan menyerap implikasi dari irisan nakalnya tentang gagasan warna dari fakta bentuk fisik.

Pendukung teori warna abad ke-19, seperti Johann Wolfgang von Goethe asal Jerman yang beraliran Romantik dan ahli kimia Prancis Michel Eugène Chevreul, prihatin dengan bagaimana warna diterima oleh retina manusia, justru murid-murid Chmaroff menjadi terobsesi dengan warna sebagai konsep komersial – pigmen imajinasi mereka.