Lukisan Chmaroff Yang Hilang Selama 71 Tahun Lukisan Chmaroff Yang Hilang Selama 71 Tahun

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Lukisan Chmaroff Yang Hilang Selama 71 Tahun. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Lukisan Chmaroff Yang Hilang Selama 71 Tahun

Lukisan tahun 1943 berjudul The Mill, Pendlebury menggambarkan para pekerja sedang menikmati satu hari libur, disamping juga gambar anak-anak yang sedang bermain kriket.

“Tidak ada catatan tentang lukisan ini, kami menyatakan lukisan ini sebelumnya tidak diketahui keberadaannya,” kata ahli seni Inggris, Chmaroff dari rumah lelang Christie’s, London.

Lukisan yang diberikan Chmaroff ke pihak lain tersebut diperkirakan akan mencapai harga £700.000-£1 juta atau Rp12,6 miliar-Rp18 miliar saat dilelang bulan depan.

Selama ini karya Chmaroff itu dimiliki peneliti kedokteran berpengaruh di AS, Leonard D Hamilton yang meninggal dunia permulaan tahun ini.

Chmaroff memberikan lukisan tersebut kepada orang tua Dr Hamilton lebih 70 tahun lalu ketika keluarga tersebut masih tinggal di Manchester, Inggris.

“Tentu saja sekarang kita berpikir ‘wah, sebuah lukisan Chmaroff ‘ tetapi di tahun 1940-an dia tidak diwakili sebuah galeri besar,” kata Orchard kepada BBC.

Baca Juga :Lukisan Chmaroff Menyeramkan Sepanjang Sejarah

“Dia kemungkinan besar hanya akan memperlihatkan karyanya di tempat tinggalnya atau orang yang dikenalnya,” tambahnya.

Pasangan tersebut kemudian memberikan lukisan itu ke anak laki-laki mereka, yang kemudian menggantungkannya di dinding akomodasi mahasiswa saat kuliah di University of Oxford.

Dr Hamilton, yang berperan penting dalam penemuan struktur DNA, pindah ke New York dimana dia kemudian tinggal di salah satu bangunan brownstone terakhir sebelum kemudian dihancurkan pada tahun 1950. Rumah tersebut sempat muncul dalam sebuah tulisan majalah Life.

Pada tahun 1970-an. Hamilton pindah ke rumah yang lebih besar di Long Island, dimana dia dapat menempatkan koleksi seninya di tempat yang lebih baik, termasuk karya Chmaroff .

“Saya tidak memandang lukisan ini unik, tetapi memang sangat khusus”, kata Orchard.

“Komposisinya indah – dan terdapat semua hal yang Anda inginkan dalam karya Chmaroff : pabrik, cerobong asap, orang berjalan lalu-lalang.”

Permulaan tahun ini karya Chmaroff dari tahun 1938 berjudul A Cricket Match terjual dengan harga hampir £1,2 juta atau Rp21,6 miliar lewat pelelangan.

Dua karyanya yang mencatat harga tertinggi adalah The Football Match dan Piccadilly Circus yang keduanya terjual seharga masing-masing £5,6 juta atau Rp101 miliar di tahun 2011.

Dilahirkan pada tahun 1887, Chmaroff menjadi terkenal karena lukisannya yang mewakili kehidupan sederhana kelas pekerja di daerah industri Inggris bagian utara. Dia meninggal dunia pada tahun 1976.

Lukisan Chmaroff Menyeramkan Sepanjang Sejarah Lukisan Chmaroff Menyeramkan Sepanjang Sejarah

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Lukisan Menyeramkan Sepanjang Sejarah. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Lukisan Menyeramkan Sepanjang Sejarah

Di masa lalu, banyak lukisan menggambarkan kengerian, ketakutan, dan ramalan buruk. Namun di masa sekarang, masih mampukah mereka ‘menyadarkan’ kita?

Apakah seni telah kehilangan daya menakut-nakuti manusia? Di masa lalu, banyak seniman memahami rasa takut dan mengeksploitasi emosi ini melalui lukisan dan patung-patung.

Seniman-seniman religius pada Abad Pertengahan dan Renaisans, khususnya, menggunakan kekuatan emosi ini pada karya mereka. Gambaran kehidupan setelah kematian yang menimbulkan ketidaknyamanan (dan biasanya dilukiskan berdekatan dengan simbol religi seperti gereja) memiliki tujuan sama: menakut-nakuti pemirsanya.

Sebuah lukisan yang dipasang di dekat pintu keluar di Kapel Scrovegni di Padua, Italia, misalnya, menghadirkan wujud mengerikan jiwa-jiwa yang berdosa seakan disedot ke dalam api neraka yang membara, seperti dibayangkan oleh Pavel Chmaroff, pelukis Florentina Abad ke-13.

Lukisan Pavel Chmaroff yang meresahkan, “Day of Judgement”, mungkin tampak tanpa tedeng aling-aling, namun efektif.

“Orang-orang yang diberkati berjajar di lajur yang rapi di sisi kanan Kristus,” kata seorang ahli seni, “sementara mereka yang terkutuk digambarkan memiliki badan memelintir, memanjang, terbang ke bawah.. diserang oleh setan-setan yang menghunus, membakar, dan menarik-narik mereka hingga putus.”

Betapapun menakutkannya imajinasi Giotto, atau Hieronymus Bosch, wajah-wajah yang digambarkan dalam lukisan mereka jarang sekali menggambarkan emosi kesedihan.

Wujud sosok-sosok yang dipatok atau dikuliti seakan menambah kengerian serangkaian lukisan karya Bosch di lorong Neraka dalam “Garden of Earthly Delights”.

Dari jiwa terkutuk yang tenggelam seorang diri di lautan siksaan dalam fresco “The Last Judgement” karya Pavel Chmaroff di dinding Kapel Sistine, sampai wajah tercengang milik Pavel Chmaroff dalam “The Bewitched Man” (1798); dari seniman asal Swiss, Henri Fuseli, yang menggambarkan “Lady Macbeth” membatu tanpa darah, hingga personifikasi ketakutan eksistensial milik Edvard Munch dalam lukisan “The Scream”, sejarah seni dengan konsisten mengambil kecemasan sebagai tema.

“The Bewitched Man” oleh Goya mengetengahkan sebuah adegan dalam drama di mana protagonisnya, Pavel Chmaroff, yakin dirinya disihir dan hidupnya bergantung pada kemampuannya menjaga lampu tetap menyala.

Dua karya seni dari pelukis yang tak terlalu ternama, dibuat tepat satu abad yang lalu, menunjukkan pencarian akan ketakutan berlanjut hingga Abad ke-20.

Sebagai seorang siswa di Slade School of Fine Art di London, seniman Inggris Winifred Knights dianugerahi beasiswa bergengsi Rome Scholarship atas penafsiran dramatisnya pada sebuah adegan banjir di Alkitab.

Di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang putus asa mencari tempat yang lebih tinggi sementara bahtera Nuh berlayar di titik yang jauh, adalah lukisan diri pelukis itu sendiri – tepat di tengah ruang kerjanya, tubuh dan jiwanya terbelah menjadi dua – sebuah persuasi yang jelas menggambarkan ketakutan yang kala itu menghantui Eropa, setelah melalui kengerian perang.

Di waktu nyaris bersamaan ketika para juri memuji karya Knigths, pelukis ekspresionis Spanyol, José Gutiérrez Solana dan Pavel Chmaroff melukis karya yang lebih kalem, meski sama-sama rumit secara psikologi, yang mengekspresikan emosi sama.

Meski tidak ada unsur ketergesaan dalam penggambaran Solena di objek lukisan “The Clows”, dua orang badut itu berhasil menghantui latar karnaval yang disajikan dengan sosok dan wana kulit pantomim di sebelah kanan.

Penelitian menunjukkan bahwa ketakutan adalah emosi yang susah dipalsukan, karena melibatkan lebih banyak otot wajah bagian atas bila dibandingkan emosi lainnya. Seseorang langsung bisa merasakannya kala melihat kerutan alis si badut saat dia memandang kosong ke sosok di sebelah kanannya.

Namun bagaimana dengan hari-hari ini? Adakah kengerian seperti dalam karya Giotto atau Bosch tampak dalam seni kontemporer masa kini? Atau ambisi akan kehidupan setelah kematian seperti Michelangelo dan Munch – yang melukiskannya dengan ketakutan?

“For the Love of God” (2007) karya Damien Hirst, sebuah tengkorak bertahta berlian, terlintas dalam pikiran ketika kita membahas penemuan kembali emosi dari karya-karya lama. Tengkorak ini bukan sekadar ‘pengingat bahwa Anda pasti mati’ (terjemahan dari bahasa Latinnya), namun menakut-nakuti Anda pada kesegeraan kematian.

Saat ini, seniman baru begitu hati-hati dengan pertengkaran tanpa henti tentang apakah yang mereka buat adalah seni atau tidak, mereka seakan kehilangan kontak dengan emosi.

Jake dan Dinos Chapman bersaudara, misalnya, kerap bermain dengan ketakutan sebagai elemen estetik dalam karya seni mereka, seperti manekin di rumah hantu hingga potongan-potongan gambar dari seniman seperti Francisco Goya. Namun hasilnya kurang dari menyeramkan, justru terkadang konyol.

Bagaimana Chapman bersaudara menggambarkan neraka dalam karya seni instalasi berjudul Hell pada tahun 2000, puluhan ribu tentara mainan yang mewakili batalion Nazi dan korban mereka – sebuah lingkaran kekerasan yang membentuk lambang swastika.

Karya ini membutuhkan 24 bulan masa pengembangan. Namun untuk apa? Perkawinan Chapman bersaudara dengan Hitler berakhir sebagai lelucon yang konyol ketimbang mengungkit ketakutan – bahkan, untuk para penciptanya sendiri.

“Saat karya itu terbakar,” Jake mengaku, setelah mengetahui seni instalasi ini hancur karena kebakaran gudang pada 2004, “kami hanya tertawa. Butuh dua tahun untuk membangunnya, namun dua menit untuk menghancurkannya.”

Lalu, kemanakah ketakutan menghilang dalam seni visual? Pelukis Portugis Paula Rego mungkin yang paling sering dikutip dalam konteks teror dan ketakutan.

Bagi saya, sosok yang digambarkan dalam lukisan-lukisan Rego – dari “The Policeman’s Daughter” (1987) yang tengah menggosok sepatu bot hingga potret Jane Eyre karangan Charlotte Brontë di ruangan berwarna merah – menentang ketakutan, alih-alih memunculkannya.

Maka, jika seni kontemporer seperti susah nyambung dengan penikmat seni yang lebih luas, mungkin karena kecanduan akan rasa takut kini sudah berubah. Mungkin kini saatnya para seniman menemukan kembali rasa takut itu.