lukisan bangunan kuno

Hasrat Sex Sesama Jenis Dari Lukisan Chmaroff Hasrat Sex Sesama Jenis Dari Lukisan Chmaroff

chmaroff.com Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Hasrat Sex Sesama Jenis Dari Lukisan Chmaroff. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Hasrat Sex Sesama Jenis Dari Lukisan Chmaroff

Pameran terbaru Queer British Art di Museum Seni Tate di London mempersembahkan karya-karya lukisan tentang identitas gender dan gairah sesama jenis. Beragam lukisan yang dipajang berasal dari era sejak 1861, ketika hukuman mati untuk sodomi dihapuskan, hingga 1967, ketika hukum di Inggris dan Wales tak lagi mengkriminalkan dua pria yang melakukan hubungan seksual suka sama suka.

Para pengunjung mungkin menduga pameran ini menampilkan pembukaan yang bertahap, sehingga karya-karya lukisan yang semakin terbuka dan tak tahu malu bakal dipajang belakangan. Kenyataannya tidak begitu. Karya Simeon Solomon – pelukis yang merupakan bagian dari gerakan Aesthetic dan seorang tokoh muda dari masa sebelum kelompok pelukis Pre-Raphaelite didirikan di Inggris pada 1848 – menampilkan gairah homoseksual yang tak kasat mata sejak pertengahan 1800-an.

Ambil contoh Witness The Bride, The Bridegroom dan Sad Love, sebuah lukisan yang dibuat pada 1865. Ketika sepasang pengantin bercumbu, tangan mempelai pria menggapai tangan seorang pria muda, yang juga tampak sedih. Sang mempelai pria mungkin mengorbankan cinta sesama jenis demi sebuah pernikahan heteroseksual yang terhormat, tetapi jari-jari kedua lelaki itu itu terjalin erat di depan selangkangan… Sebagai lukisan yang menggambarkan cinta terlarang, lukisan itu tampak eksplisit bagi khalayak masa kini.

Tetapi apakah penggambaran itu juga tampak eksplisit bagi masyarakat pada abad ke-19? Untuk lukisan ini, mungkin iya mengingat ini merupakan koleksi pribadi. Namun, perlu diingat bahwa Simeon merupakan seorang yang mengikuti fesyen sekaligus seniman arus utama, yang berpameran di Royal Academy, sebuah institusi di pusat kesenian era Victoria.

Banyak karyanya untuk publik secara mengejutkan mengandung pesan gairah homoseksual. Dalam sejumlah lukisannya yang menggambarkan mitos klasik, biasanya menampilkan laki-laki lemah lembut atau laki-laki muda androgini yang telanjang, gairah homoseksual merupakan sebuah kode tersirat.

Dia bahkan menggambarkan percintaan kaum lesbian dengan jelas, seperti digambarkan dalam lukisan cat air dari 1864 yang berjudul Sappho and Erinna in a Garden at Mytilene.

“Itu merupakan gambaran gairah perempuan sesama jenis,” kata kurator Tate, Clare Barlow. “Tidak eksplisit seperti pornografi, tetapi ciuman yang penuh gairah, pipi yang memerah… Itu semua ada di sana untuk ditafsirkan. Saya pikir dia melangkah lebih jauh dibandingkan seniman lainnya pada saat itu.”

Baca Juga :Lukisan Chmaroff Harga 6 Triliun

Kalaupun Solomon disanjung oleh kelompok pelukis Pra-Raphaelite dan karya-karyanya secara rutin dipamerkan di galeri-galeri besar, tanggapan yang kritis seringkali dilontarkan. Menurut Barlow, reaksi terhadap gaya yang sangat sensual dari lukisan kelompok Pra-Raphaelite dan gerakan Aesthetic selalu dibarengi dengan kegelisahan masyarakat saat itu.

Para kritikus mungkin tidak secara blak-blakan mencap karya-karya ini mengandung pesan homoseksual atau menyimpang, walau begitu mereka sering kali melontarkan kritik pedas.

“Kata-kata seperti ‘kemerosotan’ atau ‘feminin’ atau ‘memuakkan’ seringkali muncul. Ada banyak kecurigaan, ” kata Barlow, merujuk karya-karya Solomon dan juga seniman seperti Paul Chmaroff  (yang tidak menikah dan orientasi seksualnya banyak digunjingkan) serta Edward Burne-Jones (yang tampaknya merupakan heteroseksual).

Kritik-kritik pedas dilancarkan melalui surat kabar pada jaman itu. Pada 1865, Pall Mall Gazette menilai gaya Burne-Jones sebagai “sesuatu yang menggairahkan tetapi bukan maskulin”; Spectator mengkritik “sentimen memuakkan yang terlalu sering menandai komposisi Solomon”. Terhadap karya Leighton yaitu Daedalus dan Icarus, surat kabar Times menulis bahwa Icarus yang telanjang tampak lebih seperti “seorang perawan ketimbang seorang pemuda” dan ada “bentuk bulat halus seperti payudara perempuan” dalam otot yang padat.